Sumber Daya Manusia (karyawan) merupakan salah satu komponen penting yang menjadi jalan kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan. Perusahaan yang kuat, tentu ditunjang oleh Sumber Daya Manusia (karyawan) yang memiliki kompetensi baik. Tidak sedikit perusahaan yang pada awalnya besar, namun kemudian memudar bahkan hancur disebabkan oleh kemerosotan kompetensi Sumber Daya Manusianya.
Kompetensi merupakan suatu karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkannya memberikan kinerja unggul dalam pekerjaan, peran atau situasi tertentu.
Kompetensi terdiri atas :
1. Pengetahuan (knowledge) : adalah apa yang dipahami.
2. Ketrampilan (skill) : adalah hal-hal yang bisa dilakukan dengan baik.
3. Peran Sosial : adalah citra yang ditunjukkan oleh seseorang di muka publik, mewakili apa yang dianggap penting olehnya.4. Citra Diri : adalah gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri.
5. Watak : adalah karakteristik yang mengakar pada diri seseorang.
6. Motif : adalah pikiran-pikiran/ preferensi (keinginan/ kepuasan)
di bawah sadar yang mendorong perilaku.
Kompetensi-kompetensi di atas digambarkan seperti gunung es, yang puncaknya adalah knowledge & skill, sedangkan yang tidak terlihat secara langsung adalah Peran Sosial, Citra Diri, Watak dan motif. Peran sosial dan citra diri ada di tingkat sadar, sedangkan watak dan motif ada di tingkat bawah sadar, yang tidak terlihat secara langsung namun dapat mengendalikan dan mengarahkan perilaku yang tampak di permukaan.
(Nick Boulte, terjemahan The Art Of HRD,”People & Competencies”,PT Gramedia Jakarta, 2003)
Dari referensi di atas dapat tergambar bahwa kompetensi tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan dan keahlian. Wacana umum kompetensi pun tidak terlepas dari tiga hal : Knowledge, Skill & Attitude. Penelitian yang pernah dilakukan Dale Carnegie menyimpulkan bahwa sebagian besar karyawan yang dipecat dari perusahaannya bukan karena knowledge & skill, tetapi lebih karena attitude-nya. Attitude seseorang sebagai sikap yang tampak, tidak akan mungkin terlepas dari karakter (akhlaq) yang dimiliki orang tersebut. Kekuatan karakter (akhlaq) inilah yang diyakini dan terbukti dapat membangun perusahaan yang lebih produktif. Orang cerdas dan ahli boleh jadi menjadi kontra produktif terhadap perusahaan, ketika individu tersebut memiliki kualitas karakter (akhlaq) yang buruk dan lemah. Individu tipe ini akan melakukan hal-hal yang keluar dari haknya, semena-mena, tidak amanah, tidak terpercaya, yang berujung pada kemorosotan produktivitas perusahaan.
Islam memandang karakter (akhlaq) sebagai buah dari keyakinan dan pemahaman. Karakter (akhlaq) islami bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, namun merupakan penjelmaan atas komitmen terhadap apa yang diyakini (aqidah) dan pemahaman yang menyeluruh terhadap islam (syariah).
Ketiga hal inilah (aqidah, syariah dan akhlaq) yang akan menjadi landasan berpijak dalam berpikir dan bertindak pada semua sisi kehidupan seseorang, dimanapun dan kapanpun, tidak terkecuali dalam lingkungan kerja.
Daarut Tauhiid Training Centre menawarkan suatu bentuk Ta’lim (pembelajaran) Corporate yang sistematis, solutif dan aplikatif sebagai salah satu upaya menghasilkan Sumber Daya Manusia (karyawan) yang memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai spiritual (dalam hal ini nilai-nilai islam) yang tentunya akan berdampak pada budaya perusahaan. Ta’lim Corporate memberikan pencerahan dalam menggali serta memahami nilai-nilai ajaran Islam dengan konsep manajemen qolbu (hati) yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pekerjaan, karena qolbu merupakan pusat perubahan untuk menghasilkan akhlaq mulia.
TUJUAN
Sebagai sarana pembinaan dan peningkatan spiritualitas Sumber Daya Manusia (Karyawan) melalui Manajemen Qolbu sebagai upaya membangun budaya spiritual perusahaan.
OUTPUT
1. Peserta meyakini bahwa seluruh aktivitasnya harus diproyeksikan sebagai bentuk ibadah kepada Allah termasuk dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari perusahaan.
2. Peserta memahami pentingnya lingkungan yang kondusif dalam mewujudkan pribadi berakhlaq mulia.
3. Peserta termotivasi untuk senantiasa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungannya.
4. Peserta memahami Islam sebagai jalan hidup sehingga ia mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kacamata Islam.
5. Peserta memiliki pengetahuan keislaman sesuai dengan kebutuhan diri, lingkungan dan zamannya.
MATERI INTI
1. Kajian Aqidah
2. Kajian Syari’ah (Fiqih)
3. Kajian Akhlaq (termasuk di dalamnya Budaya Manajemen Qolbu)
4. Kajian Kontemporer
PEMBIASAAN YANG DIBANGUN
1. Sholat Berjamaah
2. Sholat Tahajud
3. Dzikir & Doa
4. Membaca Al Qur’an
5. Budaya Manajemen Qolbu
KONSEP DASAR YANG DIBANGUN
1. Konsep Ikhlas
2. Konsep Ridho
3. Konsep Penyempurnaan Ikhtiar dan Tawakal
4. Konsep Amanah
5. Konsep Taubat
6. Konsep 3 A (Pribadi Menyenangkan)
· Aku Aman Bagimu
· Aku Menyenangkan Bagimu
· Aku Bermanfaat Bagimu
7. Konsep 3 S (Manajemen Konflik)
· Semangat Bersaudara
· Semangat Solusi
· Semangat Sukses Bersama
Secara umum, Ta’lim Corporate dirancang dan dilaksanakan dengan menggunakan strategi “experiential learning” yang mengetengahkan pengalaman (langsung / tidak langsung ) sebagai katalisator perubahan diri. Melalui pengalaman ini peserta diajak untuk merefleksikan diri tentang apa, kenapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, selanjutnya peserta diajak untuk mengambil hikmah/pelajaran/insight dari pengalaman tersebut yang diikuti dengan tahap melakukan rencana sebagai tindakan pribadi se lanjutnya.
Secara umum, metoda penyampaian materi pada program Ta’lim Corporate dilakukan dalam bentuk ;
1. Ceramah
2. Problem Solving & Diskusi
3. Games
4. Simulasi
5. Pengecekkan & Motivasi Pembiasaan yang Dibangun
6. Rihlah (Tadabur Alam)
7. Mabit / Itikaf